Rabu, 29 Februari 2012

An Unwanted Love - Cerpen

Daffa

Diana membuka matanya dengan berat. Diana menarik kembali selimutnya. Suhu minus 3 derajat itu membuat tubuhnya sedingin es. Sebuah ketukan terdengar beberapa kali di pintu kamarnya. Seperti biasa itu ketukan dari Mamanya.
"Diana" teriak mamanya
"Ada apa ma?" berjalan menuju pintu kamar sambil menguap lebar. Aroma susu hangat menyeruak di kamar Diana.
"Pagi sayang. Kamu semalam tidak tidur ya sampe sekarang?" sambil menyodorkan gelas susu hangat dan beberapa potong roti bakar.
"Hmmm, iya ma. hehe. Mksh ma susu hangat dan roti bakarnya"
"Sama-sama sayang. Kamu pasti ada masalah. Cerita sama mama sekarang"
"Aku....." cetusnya ragu-ragu. "Sudahlah ma lupakan, sekarang aku mau siap-siap sekolah dulu
 ya" melangkahkan kakinya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Oke kalau kamu memang ga mau berbagi cerita sama Mama. Tapi kalau kamu tak sanggup menyimpan rahasia itu, kamu boleh kapan saja cerita dengan Mama. Mama selalu ada buat kamu sayang" Ucap mamanya menenangkan. Diana hanya tersenyum tipis seakan dia mampu bahagia melupakan semua tentang Daffa.

Sesampainya di sekolah, ketika bertemu dengan temannya ia seakan tak mampu menahan air matanya. Refleks ketika Mira sahabatnya menatap matanya. Ketika itu pun pula Mira kaget, dan penuh dengan tanya penyebab Diana menangis. Mereka tak pernah melihat Diana bisa menangis seperti itu. Dan akhirnya Diana luluh untuk menceritakan semua yang terjadi kepada teman-temannya.

***

Untuk menghibur hatinya Diana saat itu membaca novel. Teringat kembali dengan bayangan Daffa ketika Diana membaca sebuah puisi patah hati yang terdapat di dalam novel itu.

Ingin ku merajut hatimu
Namun kau telah menjauh
Mencari sisa cinta yang tak tentu
Menggapai impian yang tlah lalu
Aku menanti tak tentu waktu
Menanti waktu yang telah berlalu
Namun kau hadir dengan sosok yang baru
Saat kau hadir di hatiku
Hatiku kini telah rapuh 



Andai saja waktu dapat bergulir kembali, Diana  tak akan menyia-nyiakan waktu bersama Daffa. Andai ia tahu lelaki itu benar-benar mencintai, menyanginya saat itu dan lelaki itu serius menjalani hubungan dengannya. Ah.... semuanya sudah terlambat, waktu akan terus bergulir dan tidak akan pernah kembali. Pikiran yang menghampiri otak Diana saat itu.
Kehilangan sangat terasa di kalbu Diana. Namun ia sadar, ia harus bangkit dari keterpurukan karna sekarang Daffa telah bahagia dengan hari-harinya yang di lalui tanpa Diana. 
Diana tak mau menjadi Bella yang sangat menunjukkan rasa cintanya kepada Daffa. Diana yakin semuanya ada pada waktu, seiring berjalannya waktu ia pasti mampu melupakan Daffa.

"Selamat tinggal, semoga kamu bisa melupakan semua kesalahan yang telah aku perbuat. Aku berharap di masa depan nanti kita bisa bertemu lagi dan kamu melakukan sesuatu yang ada di dalam mimpi Ibuku"

T-A-M-A-T







Tidak ada komentar:

Posting Komentar